Selasa, 22 Mei 2012

Hakikat Manusia Dalam Islam


 

Hakikat Manusia Dalam Islam



Definisi Manusia Menurut Al- Toumy Al- Syaibani
  1. Manusia sebagai makhluk Allah yang paling mulia di muka bumi.
  2. Manusia sebagai khalifah di muka bumi.
  3. Insan makhluk sosial yang berbahasa.
  4. Insan mempunyai tiga dimensi yaitu: badan, akal dan ruh
  5. Insan dengan seluruh perwatakannya dan ciri pertumbuhannya adalah hasil pencapaian 2 faktor, yaitu faktor warisan dan lingkungan
  6. Manusia mempunyai motivasi, kecenderungan dan kebutuhan awal baik yang diwarisi mauun yang diperoleh dalam proses sosialisasi.
  7. Manusia mempunyai perbedaan sifat antara yang satu dengan yang lainnya.
  8. Insan mempunyai sifat luwes, lentur, bisa dibentuk , bisa diubah.

1.      Hakikat Manusia
Manusia menurut Allah adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT dari tanah liat kering dan diberikan ruh ke dalam jasad manusia ini dan makhluk yang dimuliakan atas segala ciptaan-Nya.
Allah telah menurunkan Al Qur’an yang diantara ayat-ayat-Nya adalah gambaran tentang manusia.
Berbagai istilah digunakan untuk menunjukkan aspek kehidupan manusia, diantaranya:
Ø  Dari aspek historis, disebut dengan Bani Adam “Hai bani Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Seunguhnya Allah tidak menyukai orang–orang yang berlebih –lebihan”(QS 7:31).
Ø  Dari aspek biologis, disebut dengan Basyar “Dan berkatalah pemuka–pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat(kelak) dan yang telah (Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia)(orang) ini tidak lain hanyalah manusia (basyar) seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan dan minum dari apa yang kamu minum”(QS 23:24).
Ø  Dari aspek kecerdasan, disebut dengan Insan “Dia menciptakan manusia (insan) mengajarnya pandai berbicara”(QS 55:3-4)
Ø  Dari aspek sosiologis, disebut dengan An-Nas “Wahai manusia (nas) sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang–orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”(QS 2:21).
Ø  Dari aspek posisinya, disebut dengan Hamba “Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka?jika Kami menghendaki niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan mereka gumpalan dari langit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar–benar terdapat tanda ( kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali kepadanya”(QS 34:9)

Selain istilah-istilah itu ada juga sebutan bagi manusia sesuai dengan keadaannya.
1.      Makhluuq (yang diciptakan) Manusia merupakan makhluuq atau yang diciptakan dari tanah liat dan diberikan ruh ke dalamnya oleh Allah ke dunia ini dengan tujuan hanya untuk beribadah kepada Allah. Hal ini sesuai dengan: QS AL HIJR 28 “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”.
a.       Berada dalam fitrah Fitrah dapat membawa manusia ke arah kebaikan misalnya hati nurani dapat membedakan mana yang baik, dan mana yang buruk. [QS Ar Ruum:30]
b.      Lemah Sebagai makhluk, manusia juga lemah karena manusia juga diciptakan dengan keterbatasan akal dan fisik. [QS An Nisaa’:48]
c.       Bodoh Beban amanat yang begitu besar dari Allah, diterima oleh manusia, disaat makhluk lainnya tidak menyanggupi amanat tersebut karena beratnya amanat tersebut. [QS Al Ahzab;72]
d.      Memiliki kebutuhan Sebagai makhluk yang terbatas secara fisik dan kemampuan. Maka sangat mungkin manusia memiliki kebutuhan atau kehendak kepada Allah. [QS Faathir:15]
2.      Mukarram (yang dimuliakan) Manusia merupakan makhluk yang juga dimuliakan. Buktinya adalah saat manusia pertama tercipta, seluruh malaikat disuruh bersujud kepadanya (bukan untuk menyembah). Hal ini tercantum dalam QS Al Hijr 29: “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
a.    Ditiupkan ruh  [QS As Sajdah:9]
b.    Diberi keistimewaan  [QS Al Isra:70]
c.    Ditundukkan alam untuknya. Semua alam ini termasuk dengan isinya ini Allah peruntukkan untuk manusia. [QS Al Jaatsiyah:12-13]
  1. Mukallaf (yang mendapatkan beban)  
a.    Ibadah Manusia secara umum diciptakan oleh Allah untuk beribadah sebagai konsekuensi dari kesempurnaan yang diperolehnya. [QS Adz Dzaariyaat:56]
b.    Khilafah Allah mengetahui siapa sebenarya manusia, sehingga Allah tetap menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi walaupun malaikat tidak setuju. [QS Al Baqarah:30]
  1. Mukhayyar (yang bebas memilih) Manusia selain dimuliakan, juga diberikan kebebasan untuk memilih, memilih untuk beriman kepada Allah ataukah kafir terhadap Allah. Itu semua tergantung dari pengetahuan yang manusia miliki tapi sesungguhnya fitrah manusia adalah beriman kepada Allah. Manusia diberi kebebasan memilih untuk beriman atau kafir pada Allah. [QS Al kahfi :29]
  2. Majziy (yang mendapat balasan) Sebagai konsekuensi menjadi makhluk yang memiliki kebebasan maka manusia juga merupakan makhluk yang kelak akan mendapat balasan di akherat. Balasan baik atau buruk, semuanya tergantung dari perbuatan-perbuatan yang manusia lakukan di dunia ini. Jika manusia itu berbuat baik maka di akherat akan mendapat balasan berupa surga tapi jika perbuatan selama di dunia adalah buruk maka manusia itu akan mendapat balasan berupa neraka. Hakikat manusia dalam islam Hakikat manusia menurut Allah adalah makhluk yang dimuliakan, dibebani tugas, bebas memilih dan bertanggung jawab.
a.         Surga Manusia diminta pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang dilakukannya, Allah menyediakan surga untuk mereka yang beriman dan beramal soleh yaitu mereka yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. [QS As Sajdah:19, Al Hajj:14]
c.         Neraka Balasan di akhirat terhadap perbuatan manusia adalah bentuk keadilan yang Allah berikan di akhirat. Mereka yang tidak menjalankan perintah Allah mendapatkan hukuman yang setimpal yaitu dimasukkan ke dalam neraka. [QS As Sajdah:20]

2.      Persamaan dan Perbedaan Manusia dengan Makhluk Lain.
Manusia dan makhluk lainnya itu memiliki persamaan dan juga perbedaan. Salah satunya adalah manusia dan makhluk lain memiliki tujuan yang sama dalam hal penciptaan yaitu untuk beribadah kepada Allah sedangkan dalam hal raga dan ruh manusia memiliki perbedaan. Raga manusia termasuk ke dalam derajat terendah diantara makhluk lainnya sedangkan ruh manusia termasuk ke dalam derajat tertinggi.
Hikmah yang terkandung dalam hal ini adalah manusia mengemban beban amanat pengetahuan tentang Allah sebab tidak sesuatupun di dunia ini yang memiliki kekuatan yang mampu mengemban beban amanat ini.Manusia mempunyai kekuatan ini melalui esensi sifat-sifat ruh yang diberikan Allah. Tidak ada satupun di dunia ruh yang menyamai kekuatan ruh ini,baik itu malaikat maupun iblis.
Berikut ini persamaan dan perbedaan manusia dengan makhluk lainnya:
Ø  Persamaan
v  Semua makhluk termasuk manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT.
v  Tujuan penciptaannya adalah hanya untuk beribadah kepada Allah.
v  Semua makhluk akan kembali kepada Allah.
v  Dan tiap-tiap makhluk ada di dalam penjagaan dan pengawasan Allah.
Ø  Perbedaan
v  Manusia memiliki hati nurani dan juga nafsu tapi makhluk lain hanya memiliki salah satunya saja.
v  Derajat manusia sejati adalah lebih tinggi dari makhluk yang lain.
v  Manusia tercipta dari tanah sebagai jasad dan nur sebagai hati. Sedangkan makhluk lain tidak ada yang tercipta dari tanah dan nur.
v  Bentuk ibadah manusia telah diatur di dalam Al Qur’an.
v  Manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan kehidupannya.

3.      Fungsi dan Peranan yang Diberikan Allah kepada Manusia Di dalam Al Qur’an disebutkan fungsi dan peranan yang diberikan Allah kepada manusia.
Ø  Menjadi abdi Allah Secara sederhana hal ini berarti hanya bersedia mengabdi kepada Allah dan tidak mau mengabdi kepada selain Allah termasuk tidak mengabdi kepada nafsu dan syahwat. Yang dimaksud dengan abdi adalah makhluk yang mau melaksanakan apapun perintah Allah meski terdapat resiko besar di dalam perintah Allah. Abdi juga tidak akan pernah membangkang terhadap Allah. Hal ini tercantum dalam QS Az Dzariyat : 56 “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”
Ø  Menjadi saksi Allah Sebelum lahir ke dunia ini, manusia bersaksi kepada Allah bahwa hanya Dialah Tuhannya.Yang demikian dilakukan agar mereka tidak ingkar di hari akhir nanti. Sehingga manusia sesuai fitrahnya adalah beriman kepada Allah tapi orang tuanya yang menjadikan manusia sebagai Nasrani atau beragama selain Islam. Hal ini tercantum dalam QS Al A’raf: 172 “Dan (ingatlah), keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan Kami),kami menjadi saksi”.(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini(keesaan Tuhan)”
Ø  Menjadi khalifah Allah Khalifah Allah sebenarnya adalah perwakilan Allah untuk berbuat sesuai dengan misi yang telah ditentukan Allah sebelum manusia dilahirkan yaitu untuk memakmurkan bumi. Khalifah yang dimaksud Allah bukanlah suatu jabatan sebagai Raja atau Presiden tetapi yang dimaksud sebagai kholifah di sini adalah seorang pemimpin Islam yang mampu memakmurkan alam dengan syariah-syariah yang telah diajarkan Rosulullah kepada umat manusia. Dan manusia yang beriman sejatilah yang mampu memikul tanggung jawab ini. Karena kholifah adalah wali Allah yang mempusakai dunia ini. Sehingga seorang khalifah harus benar-benar memiliki akhlak Al Quran dan Al Hadis. Dengan berpedoman pada QS Al Baqarah:30-36, maka status dasar manusia adalah sebagai khalifah (makhluk penerus ajaran Allah) sehingga manusia harus :
1.      Belajar Manusia sebagai khalifah harus mau belajar. Obyek belajar nya adalah ilmu Allah yang berwujud Al Quran dan ciptaanNya.Hal ini tercantum juga di dalam QS An Naml: 15-16 dan QS Al Mukmin: 54
2.      Mengajarkan Ilmu Khalifah yang telah diajarkan ilmu Allah maka wajib untuk mengajarkannya kepada manusia lain.Yang dimaksud dengan ilmu Allah adalah Al Quran dan juga Al Bayan
3.      Membudayakan Ilmu Ilmu Allah tidak hanya untuk disampaikan kepada manusia lain tetapi juga untuk diamalkan sehingga ilmu yang terus diamalkan akan membudaya. Hal ini tercantum pula di dalam QS Al Mu’min:35
Dari ketiga peran tersebut,maka semua yang dilakukan oleh khalifah harus untuk kebersamaan sesama umat manusia dan hamba Allah serta pertanggungjawabannya kepada Allah, diri sendiri, dan masyarakat.

4.      Manusia yang Sempurna Menurut Islam
Apa ciri manusia sempurna menurut islam? Manusia sempurna menurut Islam tidak mungkin di luar hakikatnya. Berikut ini adalah beberapa ciri manusia menurut islam :
Ø  Jasmani yang sehat serta kuat dan berketerampilan Orang Islam perlu memiliki jasmani yang sehat serta kuat, terutama berhubungan dengan keperluan penyiaran dan pembelaan serta penegakan ajaran Islam. Dilihat dari sudut ini maka Islam mengidealkan muslim yang sehat serta kuat jasmaninya. Islam juga menghendaki agar orang Islam itu sehat mentalnya karena inti ajaran Islam (iman) adalah persoalan mental. Kesehatan mental berkaitan erat dengan kesehatan jasmani. Karena kesehatan mental penting, maka kesehatan jasmani pun penting pula. Karena kesehatan jasmani itu sering berkaitan dengan pembelaan Islam, maka sejak permulaan sejarahnya pendidikan jasmani (agar sehat dan kuat) diberikan oleh para pemimpin Islam. Pendidikan itu langsung dihubungkan dengan pembelaan Islam, yaitu berupa latihan memanah, berenang, menggunakan senjata, dsb.
Ø  Cerdas dan pandai Dalam menginginkan pemeluknva cerdas serta pandai. Itulah ciri akal yang berkembang secara sempurna. Cerdas ditandai oleh adanya kemampuan menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat, sedangkan pandai ditandai oleh banyak memiliki pengetahuan, jadi banyak memiliki informasi. Salah satu ciri Muslim yang sempurna ialah cerdas serta pandai. Kecerdasan dan kepandaian itu dapat ditilik melalui indikator-indikator sebagai berikut ini. Perlunya ciri akliah dimiliki oleh Muslim dapat diketahui dari ayat-ayat al-Quran serta hadis Nabi Muhammad saw. Ayat dan hadis itu biasanya diungkapkan dalam bentuk perintah agar belajar dan ada perintah menggunakan indera dan akal, atau pujian kepada mereka yang menggunakan indera dan akalnya. Sebagian kecil dari ayat al-Quran dan hadis tersebut dituliskan berikut ini yang artinya : “Katakanlah, samakah antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.(Az-Zumar:9) “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah ulama.”(Al-Fathir:28) “Dan perumpamaan ini Kami buat untuk manusia, tidak mungkin dapat memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (Al-Ankabut: 43) Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan pentingnya ilmu (pengetahuan) dimiliki orang Islam, pentingnya berpikir, dan pentingnya belajar. Nabi Muhammad SAW. menyatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh dengan cara belajar. Jadi, kalau begitu orang Islam diperintah agar belajar. Seperti Surat al-'Alaq ayat 1 yang mengandung pengertian bahwa orang Islam seharusnya dapat membaca. Ayat ini juga mengandung perintah agar orang Islam belajar karena pada umumnya kemampuan membaca itu diperoleh dari belajar. Dalam al-Quran surat al-Nahl ayat 43 Tuhan menyuruh orang Islam bertanya jika ia tidak tahu. Ini dapat diartikan sebagai suruhan belajar. Jadi, jelaslah bahwa Islam menghendaki agar orang Islam berpengetahuan. Ini adalah salah satu ciri akal yang berkembang baik. Akal yang berkembang baik itu berisi banyak pengetahuan sains, filsafat, serta mampu menyelesaikan masalah secara ilmiah dan atau filosofis. Akal yang cerdas adalah karunia Tuhan. Indikatornva ialah kecerdasan umum (IQ). Kecerdasan itu, selain ditentukan oleh Tuhan, juga berkaitan dengan keturunan. Kesehatan jiwa dan fisik jelas berkaitan pula dengan kecerdasan tersebut. Kalau begitu, kesehatan dan kekuatan seperti yang telah diuraikan sebelum ini memang berkaitan juga dengan tingkat kecerdasan.
Ø Rohani yang Berkualitas Tinggi Rohani yang dimaksud disini ialah aspek manusia selain jasmani dan akal (logika). Pengertian atau hakikat rohani masih sangt sukar untuk ditemukan, namun banyak yang mengaitkan dengan kalbu saja. Kalbu di sini, sekalipun tidak jelas hakikatnya, apalagi rinciannva, gejalanya jelas. Gejalanya itu diwakilkan dalam istilah rasa. Rincian rasa tersebut misalnya sedih, gelisah, rindu, sabar, serakah, putus asa, cinta, iman. Kalbu vang berkualitas tinggi itu adalah kalbu yang penuh berisi iman kepada Allah; atau dengan ungkapan lain, kalbu yang takwa kepada Allah. Kalbu yang penuh iman itu mempunyai gejala-gejala yang amat banyak; katakanlah rinciannya amat banyak. Kalbu yang iman itu ditandai bila orangnya salat. Ia salat khusyuk (al-Mu'min: l-2); bila mengingat Allah, kulit dan hatinya tenang (al-Zumar:23); bila disebut nama Allah, bergetar hatinya (al-Hajj:34-35); bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mereka sujud dan menangis (Maryam:58, al-Isra':109). Itulah ciri utama hati yang penuh iman atau takwa. Dari situlah akan muncul manusia yang berpikir dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan.Jadi,dapatlah disimpulkam bahwa manusia sempurna dalam pandangan Islam ialah manusia yang hatinya penuh iman atau takwa kepada Tuhan.












a.              Konsep Manusia
Konsep Manusia Dalam Al-Qur’an
Adanya manusia menurut al-Qur’an adalah karena sepasang manusia pertama yaitu Bapak Adam dan Ibu Hawa. Disebutkan bahwa, dua insan ini pada awalnya hidup di surga. Namun, karena melanggar perintah Allah maka mereka diturunkan ke bumi. Setelah diturunkan ke bumi, sepasang manusia ini kemudian beranak-pinak, menjaga dan menjadi wakil-Nya di dunia baru itu. Tugas yang amat berat untuk menjadi penjaga bumi.
Karena beratnya tugas yang akan diemban manusia, maka Allah memberikan pengetahuan
tentang segala sesuatu pada manusia. Satu nilai lebih pada diri manusia, yaitu
dianugerahi pengetahuan. Manusia dengan segala kelebihannya kemudian ditetapkan
menjadi khalifah dibumi ini. Satu kebijakan Allah yang sempat ditentang oleh
Iblis dan dipertanyakan oleh para malaikat. Dan Allah berfirman: “....Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama mereka...” (al-Baqarah ayat 33). Setelah Adam menyebutkan nama-nama itu pada malaikat, akhirya Malaikatpun tahu bahwa manusia pada
hakikatnya mampu menjaga dunia.
Dari uraian ini dapat dipahami bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah SWT. Dengan segala pengetahuan yang diberikan Allah manusia memperoleh kedudukannya yang paling tinggi dibandingkan dengan makhluk lainnya. Inipun dijelaskan dalam firman Allah SWT: “.....kemudian kami katakan kepada para Malaikat: Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali Iblis, dia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (al-Baqarah ayat 34). Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki keistimewaan dibanding makhluk Allah yang lainnya, bahkan Malaikat sekalipun. Menjadi menarik dari sini jika legitimasi kesempurnaan ini diterapkan pada model manusia saat ini, atau manusia-manusia pada umumnya selain mereka para Nabi dan orang-orang maksum. Para nabi dan orang-orang maksum menjadi pengecualian karena sudah jelas dalam diri mereka terdapat kesempurnaan diri, dan kebaikan diri selalu menyertai mereka. Lalu, kenapa pembahasan ini menjadi menarik ketika ditarik dalam bahasan manusia pada umumnya. Pertama, manusia umumnya nampak lebih sering melanggar perintah Allah dan senang sekali melakukan dosa. Kedua, jika demikian maka manusia semacam ini jauh di bawah standar malaikat yang selalu beribadah dan menjalankan
perintah Allah SWT, padahal dijelaskan dalam al-Qur’an Malaikatpun sujud pada manusia.
Kemudian, ketiga, bagaimanakah mempertanggungjawabkan firman Allah di atas, yang menyebutkan bahwa manusia adalah sebaik-baiknya makhluk Allah. Tiga hal inilah yang menjadi inti pembahasan ini. Dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa  manusia memang memiliki kecenderungan untuk melanggar perintah Allah, padahal Allah telah menjanjikannya kedudukan yang tinggi. Allah berfirman: “Dan kalau Kami menghendaki sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah.............” (al-A’raaf, ayat 176). Dari ayat ini dapat dilihat bahwa sejak awal Allah menghendaki manusia untuk menjadi hamba-Nya yang paling baik, tetapi karena sifat dasar alamiahnya, manusia mengabaikan itu. Ini memperlihatkan bahwa pada diri manusia itu terdapat potensi-potensi baik, namun karena potensi itu tidak didaya gunakan maka manusia terjerebab dalam lembah kenistaan, bahkan terkadang jatuh pada tingkatan di bawah hewan. Satu hal yang tergambar dari uraian di atas adalah
untuk mewujudkan potensi-potensi itu, manusia harus benar-benar menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dan tentu manusia mampu untuk menjalani ini. Sesuai dengan firman-Nya: “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikannya) dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.......” (al-Baqarah ayat 286). Jelas sekali bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya dengan kadar yang tak dapat dilaksanakan oleh mereka.
Kemudian, bila perintah-perintah Allah itu tak dapat dikerjakan, hal itu karena
kelalaian manusia sendiri. “ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” Mengenai kelalaian manusia, melalui surat
al-Ashr ini Allah selalu memperingatkan manusia untuk tidak menyia-nyiakan waktunya hanya untuk kehidupan dunia mereka saja. Bahkan Allah sampai bersumpah pada masa, untuk menekankan peringatan-Nya pada manusia. Namun, lagi-lagi manusia cenderung lalai dan mengumbar hawa nafsunya. Unsur-unsur dalam diri manusia. Membahas sifat-sifat manusia tidaklah lengkap jika hanya menjelaskan bagaimana sifat manusia itu, tanpa melihat gerangan apa di balik sifat-sifat itu. Murtadha Muthahari di dalam bukunya Manusia dan Alam Semesta sedikit menyinggung hal ini. Menurutnya fisik manusia terdiri dari unsur mineral, tumbuhan, dan hewan. Dan hal ini juga dijelaskan di dalam firman Allah : Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan memulai penciptaan manusia dai tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (as-Sajdah ayat 7-9). Sejalan dengan Muthahari dan ayat-ayat ini, maka manusia memiliki unsur paling lengkap dibanding dengan makhluk Allah yang lain. Selain unsur mineral, tumbuhan, dan hewan (fisis), ternyata manusia memiliki jiwa atau ruh. Kombinasi inilah yang
menjadikan manusia sebagai makhluk penuh potensial.
Jika unsur-unsur ditarik garis lurus maka, ketika manusia didominasi oleh unsur fisisnya maka dapat dikatakan bahwa ia semakin menjauhi kehakikiannya. Dan implikasinya, manusia semakin menjauhi Allah SWT. Tipe manusia inilah yang dalam al-Qur’an di sebut sebagai al-Basyar, manusia jasadiyyah. Dan demikianpun sebaliknya, semakin manusia mengarahkan keinginannya agar sejalan dengan jiwanya, maka ia akan memperoleh tingkatan semakin tinggi. Bahkan dikatakan oleh para sufi-sufi besar, manusia sebenarnya mampu melampaui malaikat, bahkan mampu menyatu kembali dengan sang Khalik. Manusia seperti inilah yang disebut sebagai al-insaniyyah. Luar biasanya manusia jika ia mampu mengelola potensinya dengan baik. Di dalam dirinya ada bagian-bagian yang tak dimiliki malaikat, hewan, tumbuhan, dan mineral—satu persatu. Itu karena di dalam diri manusia unsur-unsur makhluk Allah yang lain ada. Tidak salah bila dikatakan bahwa alam semesta ini makrokosmos dan manusia adalah mikrokosmosnya.
Penutup
Manusia adalah manusia dengan segala potensialitasnya.
Ia dapat memilih mendayagunakan potensialitasnya atau mengabaikannya.

                   KONSEP MANUSIA menurut Ninik, Asep dan Annisa

Terdapat tiga teori yang perlu diketahui mengenai asal – usul kejadian manusia :
·      Pertama yaitu Teori Evolusi.
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh seorang sarjana Perancis J.B de Lamarck yang menyatakan bahwa kehidupan berkembang dari tumbuh – tumbuhan menuju binatang dan dari binatang menuju manusia. Teori ini merupakan perubahan atau perkembangan secara berlahan – lahan dari tidak sempurna menjadi perubahan yang sempurna.
·      Kedua yaitu Teori Revolusi
Teori revolusi ini merupakan perubahan yang amat cepat bahkan mungkin dari tidak ada menjadi ada. Teori ini sebenarnya merupakan kata lain untuk menanamkan pandangan pencipta dengan kuasa Tuhan atas makhluk-Nya. Pandangan ini gabungan pemikiran dari umat manusia yang berbeda keyakinan yaitu umat Kristen dan umat Islam tentang proses kejadian manusia yang dihubungkan dengan keMaha Kuasaan Tuhan.
Dalam Ajaran Kristen dijumpai kisah kejadian manusia dalam surat Kejadian 1-11 dan 12-50 tentang kisah oleh Martinus dalam “ Bagaimana Agama Kristen Memandang teori Darwin “.
Dalam ajaran Islam terbentuk opini dan tidak berlebihan jika dikatakan sebagai keyakinan, bahwa manusia dan juga alam semesta tercipta secara cepat oleh Kuasa Allah.Keyakinan tersebut merupakan hasil interpretasi dari ayat–ayat Al-Quran dalam surat Al-Baqarah ayat 30 yang menjelaskan tetntang kejadian Adam yaitu “ Adam adalah suatu makhluk yang diciptakan dari tanah yang diambil dari berbagai jenis yang kemudian dicampur dengan air, dibentuk dan ditiupkan ruh kedalamnya, dan kemudian menjadi makhluk hidup ”, serta Yasin ayat 82 yang berbunyi kun fayakun dengan arti “ jadilah maka terjadilah dia ”.
·      Ketiga yaitu Teori Evolusi Terbatas.
Teori ini adalah gabungan pemikiran dari pihak-pihak agama yang berlandaskan dengan alasan-alasan serta pembuktian dari pihak sarjana penganut teori evolusi. Seperti yang dikemukakan oleh Frans Dahler, yang mengakui bahwa tumbuh-tumbahan, binatang, dan manusia selama ribuan atau jutaan tahun yang benar-benar mengalami mutasi (perubahan) yang tidak sedikit.
Menurut RHA. Syahirul Alim cendekiawan Muslim ahli kimia menyatakan bahwa kita sebagai manusia harus merasa terhormat kalau diciptakan dari keturunan kera karena secara kimia molekul-molekul kera jauh lebih kompleks dibandingkan dengan tanah, karena tanah molekulnya lebih rendah keteraturannya.
Menurut Al-Syaibani manusia dikelompokkan menjadi delapan definisi,antara lain:
1.    Manusia sebagai makhluk Allah yang paling mulia dimuka bumi
2.    Manusia sebagai khalifah dimuka bumi.
3.    Insan manusia sebagai makhluk sosial yang berbahasa.
4.    Insan yang mempunyai tiga dimensi yaitu badan, akal, dan ruh
5.    Insan dengan seluruh perwatakannya dan ciri pertumbuhannya adalah hasil pencapaian dua factor, yaitu faktor warisan dan lingkungan.
6.    Manusia mempunyai motivasi, kecenderungan, dan kebutuhan permulaan baik yang diwarisi maupun yang diperoleh dalam proses sosialisasi.
7.    Manusia mempunyai perbedaan sifat antara yang satu dengan yang lainnya.
b.             Eksistensi dan Martabat Manusia
Eksistensi Manusia

Eksistensi Manusia dalam Pandangan Hasan Mustapa
Perjanan kehidupan manusia digambarkan HHM secara sistematis dalam Naskan Sasaka di Keislaman dan Naskah Matrabat Tujuh. Kedua naskah tersebut merupakan naskah yang bersambungan dalam alur, namun berbeda dalam karakter serta penekanan persoalan yang diungkap. Sementara itu, sejumlah (ribuah) bait (pada) dangding (puisi tradisional) lebih merupakan pembahsaan melalui media sastra berkenaan dengan persoalan yang diungkap dalam kedua naskah tersebut.

EKSISTENSI MANUSIA DALAM PERSPEKTIF TASAWUF
Agama sangat dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupan. Agama menandai kekhasan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk lain. Peneguhan eksistensi manusia menjadi orientasi agama.
Tasawuf merupakan salah satu model penghayatan terhadap agama, yakni penghayatan terhadap aspek batin agama. Spiritualitas mendapatkan prioritas dalam tasawuf, tanpa mengesampingkan potensi kemanusiaan yang lain. Spiritualitas justru menjadi “motor” peneguhan kemanusiaan, dengan mengaktualisasi segala potensi kemanusiaan itu. Tasawuf merupakan fenomena keberagamaan yang telah melembaga. Lebih dari itu, tasawuf berdampak juga terhadap aspek-aspek kehidupan lain.

PERMASALAHAN DI SEKITAR TASAWUF
Terdapat pendapat pro dan kontra tentang pengaruh tasawuf terhadap kehidupan umat Islam. Pada satu sisi, tasawuf dituduh sebagai faktor penyebab kemunduran umat Islam. Tasawuf dituduh mengajarkan kepasifan dan anti vitalitas. Tasawuf dituduh melahirkan apatisme terhadap eksistensi kekinian manusia. Di sisi lain, tasawuf justru diklaim sebagai upaya mempertahankan prinsip-prinsip agama dan kemanusiaan di tengah ketidak-menentuan tata aturan kehidupan yang dipraktekkan manusia (Lidinillah, 1995:1).
Perbincangan tentang tasawuf menjadi semakin menarik dengan munculnya fenomena kesadaran yang semakin intens di kalangan intelektual terhadap spiritualitas untuk memperteguh eksistensi manusia. Kesadaran semacam itu menjadi motivasi orang tertarik dan butuh dengan hidup secara spiritual. Salah satu jawaban terhadap kebutuhan hidup secara spiritual ditemukan dalam tasawuf. Persoalan yang menarik untuk dicari jawabannya secara lebih spesifik adalah makna eksistensi manusia dalam perspektif tasawuf, kemungkinan kesanggupan jalan sufi jalan sufi menjadi prosedur alternatif bagi upaya peneguhan kemanusiaan.

PERMASALAHAN DI SEKITAR EKSISTENSI MANUSIA
Eksistensi manusia menjadi bahasan aktual dalam filsafat, dan pernah sangat populer pada kurun waktu tertentu sehingga muncul filsafat eksistensialisme. Filsafat eksistensialisme merupakan suatu protes. Filsafat eksistensialisme menolak mengikuti salah satu aliran, keyakinan, khususnya sistem filsafat yang ada sebelumnya. Filsafat terdahulu bagi mereka bersifat dangkal, akademis, dan jauh dari kehidupan. Hal itu harus diluruskan. Eksistensi manusia harusnya menjadi titik pangkal pemikiran filsafat (Dagun, 1990:16).
Eksistensialisme sebagai suatu gerakan filsafat merupakan suatu usaha yang lebih memadai untuk memahami watak manusia sebagai individu. Munculnya eksistensialisme dalam beberapa hal adalah suatu protes terhadap bentuk-bentuk rasionalisme yang mengutamakan intelektualitas untuk memahami realitas. Eksistensialisme juga merupakan reaksi terhadap kecenderungan yang lebih memandang manusia sebagai suatu benda (a thing) daripada sebagai seorang pribadi (a person), eksistensialisme juga menekankan ide bahwa terdapat unsur subjektif sebagaimana unsur objektif di dalam makna kebenaran (Patterson, 1971:162).
Istilah eksistensi mengalami perluasan arti. Istilah eksistensi pada mulanya menunjuk pada pengalaman akan kenyataan. Segala yang bereksistensi dengan cara tertentu harus terdapat dalam ruang dan waktu, dan harus merupakan objek cerapan indera (Kattsof, 1986:209).
Kemudian, istilah eksistensi menunjuk pada kesadaran manusia, yang dalam moralitasnya, dapat mengekspresikan identitas dirinya. Istilah eksistensi dalam pengertian yang pertama maupun kedua selalu mengarah kepada manusia. Istilah eksistensi menjelaskan apa yang menentukan pengertian manusia terhadap dirinya sendiri yang independen. Eksistensi bukan hanya berarti keberadaan manusia, tetapi juga cara berada manusia yang bertolak dari kesadaran sebagai diri (Dagun, 1990:27).
Hakikat manusia terletak dalam eksistensinya. Pemahaman terhadap eksistensi manusia bertolak dari tiga aspek yang integral. Pertama, manusia merupakan keberadaan jasmani yang tersusun dari bahan material. Kedua, keberadaan manusia tampak sebagai sosok atau organisme hidup yang menyatu dalam tampilan individu jasmani. Ketiga, manusia mempunyai ciri kehidupan mentransendensi dan meneguhkan diri sebagai eksisten (Dagun, 1990: 8).
Apabila peneguhan diri sebagai eksisten itu bertolak dan hanya mungkin dari intelektualitas dan spiritualitas manusia, maka agama menyediakan fasilitas itu. Agama pada dasarnya adalah cara untuk meneguhkan keberadaan manusia (modus of existence) (Fauzi, 1992: 155). Jalan tasawuf relevan dengan persoalan eksistensi manusia. Tasawuf dapat menjadi prosedur alternatif bagi upaya peneguhan diri, yakni peneguhan akan kedirian manusia.

TASAWUF SEBAGAI MODUS PENEGUHAN DIRI

Tasawuf sebagai Mistisisme Khas Islam
Mistisisme dalam arti sempit, searti dengan kata ekstase yang berarti berada di luar diri, mistisisme dikaitkan dengan keadaan emosional yang luar biasa di mana orang kehilangan kesadaran. Mistisisme, dalam arti luas, adalah berkenaan dengan segala pengalaman non dan supra rasional, yang meliputi segala gejala di satu sisi hilangnya kesadaran, dan di sisi lain meningkatnya kesadaran. Tujuan jalan mistisisme adalah mengatasi keterbatasan sejarah, budaya, dan kepribadian agar mencapai kesatuan dengan Yang Ilahi dan sekurang-kurangnya memberi kemungkinan Yang Ilahi mendekati roh manusia (Crapps, 1993: 47).
Mistisisme sering dianggap sama secara essensial, terlepas dari perbedaan agama yang dianut para mistikus. Mistisisme dipandang sebagai gejala yang tetap dan sama dari kerinduan universal manusia untuk bersatu dengan Tuhan. Anggapan semacam itu dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa setiap gerakan keagamaan muncul dan berkembang selalu berbenturan dengan keyakinan lain yang telah mapan, yang cenderung memberikan pengaruh (Arberry, 1985: 7).
Tasawuf adalah sebutan untuk mistisisme Islam. Terdapat berbagai pendapat mengenai makna tasawuf ditinjau secara etimologis. Satu pendapat mengatakan, istilah tasawuf berasal dari kata shafw atau shafaa yang berarti bersih. Pendapat lain mengatakan, istilah tasawuf berasal dari kata shaff yang berarti barisan waktu shalat. Pendapat yang lain mengatakan, istilah tasawuf berasal dari kata shuf yang berarti wol (Umarie, 1966: 9).
Pendekatan definitif terhadap arti tasawuf juga beragam, yang secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok. Kelompok pertama memberi aksentuasi moral, sedang kelompok kedua memberi aksentuasi mistik. Definisi Al-Junaid tentang tasawuf dalam hal ini mewakili kelompok pertama, sedangdefinisi Ibn-Khaldun mewakili kelompok kedua (Hamka, 1990: 4).
Definisi tasawuf menurut Al-Junaid: Tasawuf ialah keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk kepada budi perangai yang terpuji. Definisi tasawuf menurut Ibn-Khaldun: Tasawuf itu adalah semacam ilmu syar’iyah yang timbul kemudian dalam agama. Asalnya ialah bertekun ibadah dan memutuskan pertalian dengan segala selain Allah, hanya menghadap kepada Allah semata. Menolak hiasan-hiasan dunia, serta membenci perkara-perkara yang selalu memperdaya orang banyak, kelezatan harta-benda, dan kemegahan. Dan menyendiri menuju jalan Tuhan dalam khalwat dan ibadah”. Tasawuf mempunyai karakter khas yang membedakannya dari mistisisme lain. Pertama, apabila kedua definisi tentang tasawuf di atas diperhatikan dan dipahami secara utuh, maka akan tampak selain berorientasi spiritual, tasawuf juga berorientasi moral (Lidinillah, 1995: 27).
Kedua, sumber tasawuf adalah ajaran-ajaran Islam yang terdapat dalam ALQur’an dan Al-Hadits, dan juga kehidupan para sahabat Rasulullah Muhammad SAW (Hamka, 1993: 37). Seorang sufi pertama kali akan mencari petunjuk dan referensi bagi pembenaran tindakannya dalam Al-Qur’an sebagai acuan utama. Dia juga akan mengacu kepada Hadis Rasulullah Muhammad SAW sebagai sumber keterangan penjelas. Referensi selanjutnya bagi aktivitas tasawufnya adalah pengetahuan dan tindakan para pengikut setia Rasulullah Muhammad SAW. Pengalaman spiritual yang diperolehnya sebagai penunjang semuanya itu (Arberry, 1985: 10). Esensi Islam dengan berbagai aspek ajarannya adalah tauhid. Bila sumber tasawuf adalah ajaran Islam, maka sendi pokok tasawuf adalah tauhid, sehingga tasawuf merupakan mistisisme khas Islam yang sepenuhnya monoteistik, bukan panteistik seperti mistisisme lain (Lidinillah, 1995: 27).
Ketiga, beberapa faham mistisisme berpendirian bahwa mistik adalah jalan individual. Kesempurnaan spiritual mistisisme hanya dapat dicapai dengan meninggalkan kehidupan sosial. Kehidupan social menghalangi manusia mencapai kesempurnaan spiritual individu. Sendi pokok tasawuf adalah tauhid. Penghayatan yang intens terhadap tauhid akan mengantarkan kepada pemahaman dan keyakinan bahwa sebenarnya fitrah manusia itu hidup bermasyarakat. Kalimat tauhid La Ilaaha illallah dalam dimensi rububiyah dapat diungkapkan dalam kalimat La khalika illallah yang berarti tidak ada pencipta kecuali Allah (Ilyas, 1989: 34). Implikasi keyakinan tidak adanya pencipta kecuali Allah adalah keyakinan bahwa seluruh umat manusia berasal dari satu pencipta dan karenanya manusia itu sederajat. Hikmah diciptakannya manusia itu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah untuk saling mengenal dan mendekatkan diri satu dengan yang lain. (Q.S. 49:13). Inilah pengakuan Islam terhadap sosialitas manusia. Tasawuf dengan demikian juga berorientasi sosial (Lidinillah, 1995: 27).
Tasawuf mengalami pasang-surut sejalan dengan sejarah perkembangan kehidupan umat Islam. Tasawuf pada mulanya, abad pertama dan kedua hijriyah, lebih merupakan reaksi terhadap kondisi moral dan sosial yang menyimpang. Tasawuf lebih bersifat akhlaki. Pada abad ketiga dan keempat hijriyah, ketika terjadi pembenturan antara keyakinan Islam dengan keyakinan di luar Islam, tasawuf menjadi sarana untuk mencapai kepuasan spiritual yang ditengarai dengan keberhasilan manusia menyatu dengan Tuhan. Tasawuf lebih bersifat metafisik. Pada abad kelima hijriyah dan seterusnya, muncul kesadaran bahwa tasawuf mesti dikembalikan kepada ruhnya yang semula, yakni ruh Islam yang menjunjung tinggi nilai amal di samping kehidupan spiritual, menekankan kehidupan sosial di samping kehidupan individual (Asmaran, 1994: 249).

Eksistensi Manusia dalam Islam
Motif diciptakannya manusia, berdasarkan Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam dan sebagai pilar utama tasawuf, adalah untuk menjadi wakil Tuhan di bumi (khalifatullah fil ardhi), hal ini dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 30. Kedudukan sebagai wakil Tuhan di bumi merupakan predikat yang luar biasa dan menempatkan manusia pada posisi yang lebih tinggi dari makhluk lain. Wakil Tuhan di bumi adalah subjek yang mampu membaca dan menafsirkan kehendak dan aturan-aturan Tuhan untuk kemudian dijelmakan menjadi perilaku konkrit dalam rangka menjaga kemaslahatan bumi (Lidinillah, 2000: 106).
Tidak semua manusia mampu menjadi wakil Tuhan. Untuk menjadi wakil Tuhan yang sesungguhnya dibutuhkan syarat-syarat tertentu. Iqbal (1953) menyebutkan, untuk menjadi wakil Tuhan seseorang harus “taat” dengan aturanaturan Tuhan dan harus mampu mengendalikan diri, dengan dua kondisi itu kekhalifahan Tuhan dapat dijalankan, dan eksistensi manusia sebagai wakil Tuhan di bumi diteguhkan.
Hakikat manusia sebagai eksisten berdasarkan Al-qur’an surat Al-Mukminuun ayat 115 adalah ciptaan yang mempunyai fungsi dan bertanggungjawab atas fungsinya itu. Manusia itu ciptaan Tuhan sebagaimana makhluk lainnya. Kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk yang lain adalah terletak pada fungsi, yakni kemampuan melaksanakan dan mempertanggungjawabkan fungsinya. Fungsi utama manusia sebagai eksisten secara eksplisit dijelaskan dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56, yakni untuk mengabdi kepada Tuhan. Segala aktivitas kemanusiaan mesti dimaknai sebagai suatu pengabdian. Kesadaran diri sebagai khalifah dan fungsi pengabdian sebenarnya identik. Pengabdian merupakan jalan untuk meneguhkan eksistensi manusia sebagai wakil Tuhan di bumi. Kesadaran diri sebagai khalifah merupakan motif pengabdian yang total.

Relasi Manusia-Tuhan sebagai Parameter Eksistensi Manusia
Tasawuf, sebagai mistisisme yang berpangkal pada ajaran Islam, dalam segala bentuk dan coraknya mempunyai kesamaan dalam hal orientasi. Manusia, dalam tasawuf, diakui mempunyai kedudukan yang istimewa di hadapan Tuhan, yakni sebagai khalifahNya. Menghadapkan manusia dengan Tuhan sebagai dua subjek berbeda dalam perbincangan tasawuf adalah relevan. Tema pokok tasawuf biasanya berkisar pada kemungkinan manusia “mendekati” Tuhan.
Esensi Islam adalah tauhid, yakni keyakinan akan keesaan Tuhan dalam segala dimensinya. Begitu pentingnya tauhid, sampai-sampai tidak ada toleransi bagi pelanggaran terhadapnya. Untuk memantapkan tauhid, Al-Qur’an dalam berbagai bagiannya mengajarkan transendensi Tuhan, meskipun dalam bagian yang lain mengajarkan imanensi Tuhan. Al-Qur’an mengajarkan bahwa Tuhan berbeda secara esensial dan bahkan mengatasi alam semesta; tetapi Tuhan juga menampakkan tanda-tanda diriNya dalam alam semesta (Asmaran, 1994: 56). Ketegangan antara transendensi dan imanensi Tuhan mempunyai makna tersendiri bagi para sufi. Bagi mereka, benar bahwa Tuhan secara esensial berbeda dan bahkan mengatasi alam termasuk manusia di dalamnya; tetapi bukan berarti Tuhan tidak dapat didekati oleh manusia. Tanda-tanda Tuhan yang nampak pada alam semesta mengindikasikan bahwa Tuhan mengijinkan dirinya “didekati” oleh manusia. Bagi para sufi, Tuhan dapat didekati oleh manusia secara ruhaniah. Tasawuf adalah suatu cara mengabdi pada Tuhan dalam kondisi kesadaran penuh bahwa Tuhan dekat dengan manusia. Tujuan tasawuf adalah memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga seseorang akan betul-betul mencapai kesadaran bahwa dirinya berada di hadapan Tuhan sebagai khalifahNya.
Berdasarkan pemahaman tentang relasi Tuhan-manusia di atas, keteguhan manusia sebagai eksisten bagi para sufi didasarkan pada hal-hal berikut. Pertama, kemampuan manusia mencapai hubungan langsung secara ruhaniah dengan Tuhan. Kedua, kemampuan manusia menyadari bahwa dirinya di hadapan Tuhan adalah khalifahNya. Ketiga, kemampuan manusia mengaktualisasikan hubungan langsung dengan Tuhan dan kesadaran diri sebagai khalifahNya dalam perilaku konkrit, yakni menjaga kemaslahatan dunia.

Prosedur Peneguhan Diri
Para sufi dari berbagai corak tasawuf memiliki pandangan yang relatif sama mengenai orientasi tasawuf, yakni mencapai hubungan langsung, sadar, dan sedekat mungkin dengan Tuhan. Perbedaan yang muncul di antara mereka adalah dalam hal prosedur untuk pencapaiannya.
Tasawuf akhlaki lebih menekankan pembinaan mental melalui pengendalian nafsu dalam upaya mendekatkan diri dengan Tuhan. Manusia cenderung mengikuti nafsu. Kondisi semacam itu dapat merusak mental, dan menghalangi orang untuk dekat dengan Tuhan. Nafsu sebagai kelengkapan diri manusia memang tidak seharusnya dimatikan, tetapi tidak selayaknya apabila selalu diperturutkan. Prosedur mendekatkan diri pada tasawuf akhlaki meliputi rangkaian tiga fase yang berturutan. Langkah pertama adalah takhalli, yakni membersihkan diri dari sifat-sifat dan hal-hal tercela, melepaskan diri dari ketergantungan duniawi. Langkah kedua adalah tahalli, yakni mengisi diri dengan sifat dan hal-hal terpuji. Langkah ketiga adalah tajalli, yakni terungkapnya nur Ilahi bagi hati (Asmaran, 1994: 240).
Tasawuf amali lebih menekankan pembinaan moral dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Untuk mencapai hubungan yang dekat dengan Tuhan, seseorang harus mentaati dan melaksanakan syariat atau ketentuanketentuan agama. Ketaatan pada ketentuan agama harus diikuti dengan amalanamalan lahir maupun batin yang disebut tariqah. Dalam amalan-amalan lahirbatin itu orang akan mengalami tahap demi tahap perkembangan ruhani. Ketaatan pada syari’ah dan amalan-amalan lahir-batin akan mengantarkan seseorang pada kebenaran hakiki (haqiqah) sebagai inti syariat dan akhir tariqah. Kemampuan orang mengetahui haqiqah akan mengantarkan pada ma’rifah, yakni mengetahui dan merasakan kedekatan dengan Tuhan melalui qalb. Pengalaman ini begitu jelas, sehingga jiwanya merasa satu dengan yang diketahuinya itu.
Tasawuf falsafi memadukan visi mistis dengan visi rasional. Dalam tasawuf falsafi, maqam tertinggi yang dapat dicapai manusia bukan hanya sampai pada ma’rifah; tetapi manusia bisa mencapai maqam yang lebih tinggi lagi yakni persatuan dengan Tuhan. Masalah persatuan manusia-Tuhan adalah masalah metafisik, bukan semata masalah mistis saja. Kondisi menyatu dengan Tuhan itu tiap sufi menyebutnya dengan istilah berbeda.
Abu Yazid Al-Bustami menyebutnya Ittihad yang berarti kesatuan, yakni kesatuan Tuhan-manusia. Al-Hallaj menyebutnya hulul, yang berarti menjelma, yakni Tuhan menjelma dalam manusia dan manusia menjelma dalam Tuhan. Ibn ‘Arabi menyebutnya wahdah-al wujud, yakni kesatuan wujud Tuhan dan manusia, dua bentuk dalam satu hakikat,Tuhan adalah manusia dan manusia adalah Tuhan. Suhrawardi menyebut dengan isyraq, yang berarti iluminasi atau pancaran, yakni Tuhan memancar dalam manusia (Hamka, 1994: 93-116) . Konsep-konsep tentang kemungkinan manusia “bersatu” dengan Tuhan tersebut di atas menjadi pokok perbincangan yang hangat dalam tasawuf, selalu terdapat pendapat pro-kontra mengenai persoalan tersebut.

Kecenderungan Sosial sebagai Prosedur Tasawuf
Pada beberapa sufi, upaya pembangunan mental-spiritual dalam rangka mendekatkan diri dan bahkan kalau mungkin “bersatu” dengan Tuhan dilakukan dengan cara-cara yang boleh dikatakan anti sosial. Mereka menempuh jalan sufi dengan cara uzlah (menyendiri) dari kehidupan sosial. Mereka bersemedi pada suatu tempat tertentu, sehingga ruhani mereka tidak tercemar oleh hiruk-pikuk persoalan duniawi yang dapat mengotorkan hati. Gejala ini nampak pada sufi abad I dan II Hijriyah, sebagian sufi abad III dan IV Hijriyah(Asmaran, 1994, 249). Pada abad I dan II Hijriyah para sufi menempuh jalah zuhd (menjauhi hidup duniawi) untuk mencapai kebersihan ruhani. Sementara pada abad III dan IV Hijriyah, berkembang dua kelompok sufi. Pertama, kelompok yang berfaham moderat, yang ajaran mereka selalu merujuk pada Al-Qur’an dan hadits. Mereka sangat menekankan pentingnya moralitas. Kedua, kelompok yang menekankan faham fana (hilang dalam Tuhan). Kelompok kedua inilah yang mempunyai kecenderungan anti sosial.
Beberapa literatur mengilustrasikan, anti sosial dalam tasawuf nyata-nyata telah memposisikan peradaban Islam berada di belakang peradaban Barat. Akibatnya, muncul kesadaran sosial baru dalam tasawuf. Hal tersebut nampak pada perkembangan tasawuf abad V hijriyah dan seterusnya, dengan munculnya tasawuf Suni, tasawuf yang menyandarkan diri pada Al-Qur’an dan Hadits.
Islam mengajarkan, Allah telah mengangkat manusia sebagai khalifahNya, memberikan hak istimewa, menentukan kewajiban, dan tanggungjawab. Tubuh adalah fasilitas bagi ruh untuk melaksanakan semua ketentuan itu, tubuh bukanlah penjara bagi ruh. Dunia bukan hukuman bagi manusia, tetapi lapangan bagi pelaksanaan ketentuan kewajiban. Segala sesuatu di bumi ditetapkan untuk pembebasan jiwa manusia. Bakat dan dorongan hati manusia telah melahirkan peradaban, budaya, dan sistem sosial (Maududi, 1983, 89).
Masyarakat, dengan demikian, justru menyediakan fasilitas dan merupakan ajang pembangunan ruhani. Tempat yang sebenarnya bagi pertumbuhan dan perkembangan ruhaniah terletak di tengah-tengah aktivitas kehidupan sosial, bukan di tempat tempat sunyi pertapaan. Spiritualitas dan sosialitas harus berjalan bersama dalam Islam, bahkan semua aspek kemanusiaan merupakan bagian yang integral (Lidinillah, 1995, 20). Aksentuasi sosial, selain aksentuasi moral-spiritual merupakan trend baru tasawuf abad V hijriyah hingga sekarang. Kenyataan tersebut semakin mempopulerkan tasawuf sebagai jalan membangun kemanusiaan dalam segala aspeknya. Orang semakin menaruh harapan terhadap kemungkinan tasawuf sebagai alternatif peneguhan kemanusiaan, peneguhan eksistensi manusia.

KESIMPULAN
1.    Eksistensi manusia dalam perspektif tasawuf dimaknai dalam dua hal. Pertama, eksistensi manusia dimaknai sebagai keberadaan manusia berhadapan dengan Tuhan. Dalam konteks ini, manusia sebagai eksisten adalah wakil Tuhan di bumi. Subjek yang mengemban amanah menjaga kemaslahatan bumi sesuai kehendak Tuhan. Kedua, eksistensi manusia dimaknai sebagai cara berada manusia yang bertolak dari kesadaran diri sebagai wakil Tuhanmu di bumi.
2.    Untuk memahami kehendak Tuhan manusia mesti berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan melalui pengabdian total.
3.    Kedekatan diri manusia dengan Tuhan adalah orientasi setiap aliran tasawuf, bahkan tasawuf falsafi memahami dan memaknai kedekatan hubungan Tuhanmanusia lebih jauh lagi. Semakin dekat diri manusia dengan Tuhan makin sempurna dirinya sebagai khalifah Tuhan, makin teguh eksistensinya.
4.    Perbedaan prosedur dalam upaya mencapai kedekatan dengan Tuhan bukanlah perbedaan yang prinsipiil. Perbedaan itu justru menunjukkan adanya peluang untuk saling melengkapi.
5.    Aksentuasi sosial, di samping aksentuasi moral-spiritual memposisikan prosedur mistis sebagi alternatif bagi manusia untuk mengaktualisasikan potensi kemanusiaannya dan meneguhkan diri sebagai eksisten
6.    Persoalan metafisik dalam tasawuf falsafi belum merupakan perbincangan final.

MARTABAT MANUSIA DALAM ISLAM
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang misterius dan sangat menarik. Dikatakan misterius karena semakin dikaji semakin terungkap betapa banyak hal-hal mengenai manusia yang belum terungkapkan. Dan dikatakan menarik karena manusia sebagai subjek sekaligus sebagai objek kajian yang tiada henti-hentinya terus dilakukan manusia khususnya para ilmuwan. Oleh karena itu ia telah menjadi sasaran studi sejak dahulu, kini dan kemudian hari. Hampir semua lembaga pendidkan tinggi mengkaji manusia, karya dan dampak karyanya terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungan hidupnya.
Para ahli telah mengkaji manusia menurut bidang studinya masing-masing, tetapi sampai sekarang para ahli masih belum mencapai kata sepakat tentang manusia. Ini terbukti dari banyaknya penamaan manusia, mialnya homo sapien (manusia berakal), homo economicus (manusia ekonomi) yang kadangkala disebut economic animal (binatang ekonomi), Al-insanu hayanawanun nathiq (manusia adalah hewan yang berkata-kata) dsb.
Al-Qur’an tidak menggolongkan manusia ke dalam kelompok binatang (animal) selama manusia mempergunakan akalnya dan karunia Tuhan yang lainnya. Namun, kalau manusia tidak mepergunakan akal dan berbagai potensi pemberian Tuhan yang sangat tinggi nilainya yakni pemikiran (rasio), kalbu, jiwa, raga, serta panca indera secara baik dan benar, ia akan menurunkan derajatnya sendiri menjadi hewan seperti yang dinyatakan Allah di dalam Al-Qur’an:
Artinya:...”mereka (jin dan manusia) punya hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), punya telinga tetapi tidak mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka (manusia) yang seperti itu sama (martabatnya) dengan hewan bahkan lebih rendah (lagi) dari binatang”. (QS. Al- A’raf:179)
Didalam Al-Qur’an manusia disebut antara lain dengan bani Adam (Q.S. Al-Isra:70), basyar (Q.S. Al-Kahfi:10), Al-Insan (Q.S. Al-Insan:1), An-Nas (Q.S. an-Anas(114):1). Berbagai rumusan tentang manusia telah pula diberikan orang. Salah satu diantaranya, ber-dasarkan studi isi Al-Qur’an dan Al-Hadist, berbunyi (setelah disunting) sebagai berikut: Al-insan (manusia) adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman (kepada Allah), dengan mempergunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan berakhlak (N. A. Rayid, 1983:19)

c.              Tanggung Jawab Manusia sebagai Hamba Allah dan Khalifah Allah
Manusia di tuntut untuk aktif dalam kehidupan di dunia. Aktif dalam arti positif. Aktif dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah. Aktif dalam usaha mencari kebutuhan hidup yang diberikan Allah. Pencarai kehidupan dan bekal hidup dilakukan  berdasarkan rambu-rambu yang telah dibuat oleh Allah. Dalam kerja aktif tersebut ia selalu mengedepankan rasa iman dan keteguhan dalam memegang prinsip ketuhanan.
Sebagai makhluk Allah yang diperintahkan untuk taat, menjadikan manusia makhluk yang mempunyai derajat tinggi jika ia mampu membawa dan bertanggungjawab atas amanah tersebut. Amanah dan perintah Allah keada manusia adalah untuk menjadi khalifah di bumi dan sekaligus sebagai hamba yang harus patuh dan tunduk dengan aturan Allah. Manusia sebagai hamba, disuruh dan diperintahkan oleh Allah untuk beribadah dan mengabdi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Allah berfirman,” dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariat:56).
Sebagai makhluk Allah manusia dituntut untuk beribadah dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Beribadah dengan aspek dan skill yang telah ia kuasai dan ia miliki. Tidak ada paksaan untuk melakukan yang tidak sanggup dilakukan, tetapi jika telah sepakat dan komit untuk masuk islam maka usaha untuk berbuat baik disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki. Tetapi jika meninggalkan maksiat dan dosa maka hal itu harus mutlak dilakukan tanpa ada kata kecuali. Tetapi dalam masalah ibadah jika tidak mampu maka lakukan yang mampu dan kita bias untuk itu, jika belum mampu ada usaha yaitu bertanya kepada yang tahu, atau mencari ilmu tetang hal-hal yang belum kita ketahui.
Begitu juga  sebagai khalifah, manusia  bertindak dan bertutur kata  ada  pertanggungjawaban, karena esensi dari khalifah adalah adanya tanggung jawab terhadap apa yang di pimpinnya. Khalifah adalah pengganti, dapat juga berarti pimpinan, khalifah adalah pengganti Allah di muka bumi, rrasul adalah satu contoh ahlifah Allah di muka bumi. Allah berfirman. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."(QS. Al_baqarah:30).
Dalam ayat tersebut  dapat dipahami bahwa manusia adalah khalifah pengganti manusia sebelumnya. Pemahaman ini dapat dicermati dari ungkapan para malaikat.  Sayyid Qutub menyatakan ada empat kemungkinan para malaikat mengetahui keadaan umat sebelum Adam, dengan beberapa argument, ertama mengetahui secara pasti, eksperimen yang telah lalu, ilham yang dimilikinya, kecederungan kehidupan manusia di dunia. menurut Quraish Shihab manusia sebagai khalifah sebenarnya harus mengacu kepada ketentuan Tuhan, tidak ada  sikap dan tingkah laku khalifah yang  bertentangan dengan aturan Allah. Kemudian dalam posisinya sebagai khalifah tidak lepas dari hubungannya dengan manusia, alam dan Tuhan sebagai pemberi mandat.
Di dunia manusia diberi mandat untuk mendayagunakan bumi untuk kemaslahatan dan kemakmuran  mereka sendiri. Di sisi lain, manusia diberi kebebasan untuk memilih, apa yang ia inginkn, tetapi semua pilihan tersebut ada akibatnya, baik akibat baik maupun akibat buruk dari pilihannya tersebut. Manusia diciptakan untuk mengabdi, bukan untuk main-main di dunia ini. Dikirim ke dunia bukan untuk santai-santai tetapi untuk bekerja, beramal soleh untuk bekal hidup yang lebih kekal.
Tidak heran jika manusia tidak berubah hidupnya, tidak  ada kemajuan dalam kehidupannya. Hal itu karena manusia tidak mampu mengubah dirinya.padahal Allah menyatakan bahwa tidak akan berubah nasib suatau bangsa ata nasib seseorang jika tidak ada kemauan dalam dirinya untukberubah, hal ini dapat dipahami dari firman Allah  daam surat ar-Radu, bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(QS.Ar-Radu:11).
Manusia diberi Allah mandat di muka bumi sebagai khalifah, dengan mandat tersebut manusia  mempunyai tugas sebagai berikut, pertama memakmurkan bumi, “dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."(QS. Huud:61). Untuk memakmurkan bumi manusia diberi Allah kemampuan, skill untuk membangun bumi ini, manusia diberi potensi untuk hidup dinamis dan mempunyai potensi yang menunjang fungsinya sebagai khalifah di muka bumi ini.” dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.”(QS. Al-Araf:74).
Selain memakmurkan bumi manusia mempunyai tugas untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Menegakkan keadailan dan kebenaran tanpa pandang seiap orangnya, siapa pelakukanya.  Memutuskan perkara  sesuai dengan aturan Allah, dengan mengutamakan keadilan untuk sesama. Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. Hud:26).
Di samping mempunyai peran memakmurkan bumi, menegakkan keadilan, manusia  juga mempunyai fungsi untuk menjadi motivator dan dinamisator bagi pembangunan. Hal ini dapat dicerminkan dari tingkah laku, akhlak, dan tutur kata. Dalam arti hidupnya penuh dengan nuansa ketaatan dan kepatuhan kepada aturan Allah.. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah,(QS. Al-Anbiya:73)
Dari ayat tesebut dapat dipahami bahwa sebagai khalifah Allah di bumi manusia diberi tanggungjawab dan kewajiban kepada Allah yaitu, mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, membayarkan zakat, memurnikan penyembahan hanya kepada Allah. Dengan demikiian manusia sebagai khalifah Allah di bumi hendaknya berperilaku dan bertindak sesuai dengan kontek ayat tersebut. Sebagai khalifah Allah di bumi manusia diharuskan untuk berbuat baik, berbuat amal soleh kepada siapapun, hal ini dapat di pahami dari perintah Allah tersebut, bahwa sebagai khalifah Allah manusia berkewajiban berbuat kebaikan, kebajikan,berbuat baik dan kebajikan dalam kontek ayat tersebut masih bersifat umum. Sehingga ada peluang dan celah pemahaman bahwa berbuat baik tidak hanya untuk orang Islam saja, tetapi kepada semua makhluk Allah.hal inididasarkan pada makna ayat tersebut yang berlaku umum. Jadi berbuat baik tidak hanya untuk kalangan Islam , tetapi juga kepada umat-umat yang beragama berbeda.
Di sisi lain, khalifah Allah di bumi mempunyai sifat seperti diungkap dalam ayat tersebut, pertama yang suka berbuat  kebajikan, kedua, mendirikan salat, ketiga, membayarkan zakat, memurnikan penyembahan hanya kepada Allah. Jikadalam diri manusia ada sifat tersebut maka pada dasarnya ia telah memenuhi criteria sebagai khlaifah Allah. Dan sebaliknya jika manusia belum mempunyai sifat-sifat yang telah diungkap Allah dalam ayat tersebut maka ia belum dikatakan sebagaikhalifah Allah atau wakil Allah di bumi. Sebagai wakil Allah manusia mempunyai  tugas berat yaitu memmurkan bumi, memelihara bumi dan melaksanakan berbagai aktivitas  sebagai sarana penyembahan dan pengabdian yang tulus kepada Allah.



DAFTAR SUMBER BAHAN








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar